Jumat, 05 Maret 2010

Vickers Jepang

Vickers Jepang


Setelah selesai mengeledah pakaianku, ia menumpahkan perhatiannya kepada arloji tanganku. Karena melihat badanku yang tidak seberapa itu, ia tak perduli tanganku kuangkat atau tidak. Ia menggenggam tangan kiriku untuk mencopot arlojiku.; sayangnya bannya agak sukar membukanya dengan satu tangan. Karena itu tangn kanannya ikut maju. Pistolnya sekali waktu membalik, dan terlihat olehku popornya tidak ada patroonhaudernya. Kosong melompong seperti teng bensin bocor.
Serta merta mulutku sudah mengoceh lantang dengan ironi yang tidak tersembunyi, “Wah, nodong kok pakai vickers Jepang kosong!”
Ia terkejut, sampai arlojiku yang sudah lepas jatuh je tanah. Sebentar kemudian ia memandangku dengan tak bergerak dan berkata. Kemudian ia mundur selangkah.
“Apa?Kosong?Mau rasa apa?”Aksennya Jawa Tengah.
“Mau diisi satu-satu dari atas apa?Angel dong ngokangnya!”jawabku, juga pake aksen Jawa Tengah. Dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri karena sikapnya yang ragu-ragu aku membungkuk dan memungut arlojiku. Ia membiarkan saja.
“Kok tahu ini vickers Jepang!” tanyanya. Dan aku seperti sudah kenal suara itu.
“Saya pernah pakai, kok!”
“Di mana?”
“Front MKS!”
“Lho!Front MKS!”
“Tahun 1947”
“Tahun 1947?”
“Agustus”
“Agustus?”
“Pernah ke Puring,apa?tanyaku.
“Puring? Gombong-Karanganyar?” pistolnya sudah turun sama sekali. Dan tiba-tiba aku tahu siap dia.
“Seksi Bima, regu dua!Siapa yang pernah menangis di belakang pohon kelapa takut ambil stelling di muka waktu ada serbuan?”
“Mas Nug!”
“Ya, saya ini”
Ia terpaku di aspal tak bergerak. Kaget campur rasa malu rupa-rupanya.
“Lha kamu kok jadi bandit ini ‘gimana dik?”tanyaku.
“Ini mas!”dompetku dikembalikannya kepadaku. Aku masukkan kembali ke tempatnya dan kemudian arloji aku pakai. Ia diam saja tak menjawab apa-apa. Memandang gelisah kepadaku, memperhatikan aku menutup jas hujan kembali. Kemudian sepeda aku dekatkan kepadanya.
“Tidak bawa sepeda dik?”
Ia menggelengkan kepala.
“Saya bonceng kalau begitu”,kataku dengan lagak komandan.
Kami duduk berhadap-hadapan dalam salah satu warung di Medan Senen. Palguna waktu clash I kurus dan masih hijau. Ia anggota reguku. Waktu clash II kami berpisahan. Baru sekali ini bertemu kembali. Apa yang terjadi sangat mengejutkan , karena Palguna adalah Raden Mas Ngabai Palguna, putra kedua seorang pensiunan bupati.

Dalam Cerita Pendek ada beberapa hal yang membentuk cerita yang disebut sebagai kerangka. Dalam cerpen ini kerangka yang ada adalah..
Penjelasan:
1. Pengantar Cerita
Pengantar adalah berupa gambaran yang dapat beruapa lukisan alam, tempat atau situasi yang dapat menuntun pikiran dan perasaan pembaca mengikuti cerita, dalam cerpen ini latarnya adalah di sebuah pasar tepatnya di sebuah warung makan.


2. Tema
Adalah dasar cerita yang menjadi persoalan uta cerita nantinya, dalam cerpen ini temanya adalah bagaimana seorang putra bangsawan menjadi seorang perompak atau preman.

3. Plot
Plot adalah sebuah rangkaian kejadian dan perbuatan atau hal-hal yang dialami oleh para pelaku sehingga menjalin sebuah cerita. Dalam cerpen ini terkisahkan bagaimana dua pelaku yang bersahabat setelah lama berpisah bertemu kembali.

4. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yaitu pemilihan kata dan penempatannya atau bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam memaparkan cerita. Dalam cerpen ini penulis menggunakan gaya bahasa Asosiasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar